Warga Main: Ketika Dolanan Menjadi Bahasa Seni Kolektif

Monday, 09 February 2026 07:34:25

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Di tengah ritme kota yang kian cepat, Pindrikan Markt XV hadir sebagai ruang jeda yang hangat melalui tema “Warga Main”. Bukan sekadar pasar kreatif, edisi ini menjelma sebagai perayaan seni keseharian tentang bermain, berinteraksi, dan menghidupkan kembali ingatan kolektif yang nyaris terlupakan.

Dolanan tradisional seperti layang-layang, permainan papan, hingga mainan buatan tangan dihadirkan berdampingan dengan inovasi mainan masa kini. Di sinilah “main” tidak lagi dipahami sebagai aktivitas kanak-kanak semata, melainkan sebagai praktik budaya dan ekspresi artistik. Bermain menjadi cara warga kota bernegosiasi dengan ingatan, tubuh, dan ruang sosialnya.

Melalui kurasi tenant artisan dan pelaku kreatif se-Semarang, Pindrikan Markt XV memperlihatkan bagaimana seni dapat tumbuh dari aktivitas sederhana. Setiap lapak bukan hanya menawarkan produk, tetapi juga cerita, proses, dan nilai yang melekat pada karya. Interaksi antara pengunjung dan kreator menciptakan pengalaman estetik yang cair dan egaliter.

Berlokasi di Collabox Creative Hub, acara ini menegaskan bahwa seni tak selalu harus berada di galeri. Ia bisa hadir di tengah keramaian, dalam tawa, obrolan, dan permainan. Warga Main adalah pengingat bahwa seni hidup ketika warga diberi ruang untuk bermain bersama.

Doc. Tim Liputan PT Rasa Kreasi Karya

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait