Seni sebagai Diplomasi Sunyi: Trinity Art Sam Sianata di Panggung JIAF 2025

Tuesday, 27 January 2026 08:04:53

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Yogyakarta

Jogja International Art Fair (JIAF) 2025 bukan sekadar ajang temu karya dan kolektor, tetapi juga ruang dialog gagasan. Di antara ratusan karya yang dipamerkan, Trinity Art karya maestro Sam Sianata (Liem Sian An) mencuat sebagai salah satu titik henti pengunjung. Karya ini tak hanya menyedot perhatian visual, tetapi juga mengundang perenungan yang lebih dalam.

Sam Sianata dikenal luas sebagai perupa yang konsisten menjadikan seni sebagai medium soft diplomacy. Melalui Trinity Art, ia menghadirkan narasi persatuan, kedamaian, dan kesetaraan manusia, nilai yang terasa relevan di tengah realitas bangsa yang majemuk dan dunia yang kerap terbelah oleh perbedaan.

Alih-alih tampil provokatif, karya ini bekerja secara halus. Unsur estetika dipadukan dengan simbol-simbol filosofis yang membuka ruang tafsir luas bagi pengunjung. Tak heran jika banyak kolektor, akademisi, hingga masyarakat umum terlihat berlama-lama di sekitar karya tersebut, berdiskusi, dan saling bertukar pandangan.

Menurut Sam, respons pengunjung menjadi energi tersendiri. Diskusi yang mengalir di sekitar karya menunjukkan bahwa seni masih memiliki daya sebagai bahasa universal. Bahkan, kehadiran Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang menyempatkan diri berdialog langsung dengan sang perupa, menjadi penanda bahwa karya seni dapat menjembatani ruang kultural dan birokrasi.

Di JIAF 2025, Trinity Art membuktikan bahwa seni tidak harus berteriak untuk didengar. Dalam diamnya, ia justru berbicara lebih jauh, tentang kemanusiaan, kebersamaan, dan harapan akan harmoni.

(Sumber gambar: koranbernas.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait