Rindu yang Tidak Romantis: Ketika Seni Menjadi Ruang Kegelisahan

Wednesday, 25 February 2026 04:28:00

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Batu

Rindu sering kali dibayangkan sebagai perasaan manis dan penuh kenangan indah. Namun, bagi para seniman yang tergabung dalam Simpul 8, rindu justru hadir sebagai ruang kegelisahan, kehilangan, dan pengalaman hidup yang membekas. Pandangan inilah yang melandasi pameran seni bertajuk Setengah Rindu di Galeri Raos.

Delapan seniman asal Kota Batu menghadirkan karya dengan beragam medium, mulai dari lukisan hingga karya rakit. Setiap karya merepresentasikan rindu dengan cara yang personal. Ada rindu kepada orang tua yang telah pergi, rindu pada masa kecil, hingga rindu pada bagian hidup yang tak bisa kembali.

Menariknya, meskipun judul pameran terdengar romantis, isi karya justru memperlihatkan sisi rindu yang getir dan tidak selesai. Salah satu seniman, Fadjar Djunaedi menyampaikan bahwa rindu dalam karyanya adalah rindu kepada ibunya yang telah meninggal. Perasaan itu tidak berhenti, melainkan terus hadir dalam proses berkarya.

Pameran ini juga membuka ruang partisipasi bagi pengunjung melalui buku sketsa “Tuliskan Coretan Rindumu”. Pengunjung diajak untuk mengekspresikan rindu versi mereka sendiri sehingga pameran tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga ruang dialog.

Melalui Setengah Rindu, seni hadir sebagai cara jujur untuk menghadapi perasaan yang sering disembunyikan. Rindu tidak harus indah, tetapi bisa menjadi jalan untuk memahami diri sendiri.

(Sumber gambar: timesindonesia.co.id)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait