Resonansi dan Bahasa Batin Seni: Saat Karya Berbicara Tanpa Kata

Thursday, 26 February 2026 05:26:09

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Depok

Pameran Resonansi hadir sebagai ruang di mana seni berbicara tanpa perlu banyak kata. Lewat garis, warna, bentuk, dan ruang, para seniman menyampaikan pesan batin yang lahir dari pengalaman hidup masing-masing. Pengunjung tidak diarahkan pada satu makna tunggal, tetapi justru diberi kebebasan untuk menafsirkan sendiri.

Konsep resonansi dalam pameran ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki getaran perasaan yang berbeda. Ketika karya seni dipertemukan dalam satu ruang, getaran itu saling bersinggungan dan menciptakan pengalaman baru. Di sinilah seni bekerja: bukan memberi jawaban, tetapi memancing kesadaran.

Mahmud Elqadrie menyampaikan bahwa relasi antara karya dan penikmat menjadi bagian penting dari pameran ini. Makna tidak dipaksakan, melainkan dinegosiasikan melalui pengalaman personal audiens. Seni pun menjadi medium refleksi sosial dan batiniah.

Melalui Resonansi, seni rupa tidak lagi terasa jauh atau eksklusif. Ia hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari, menyentuh sisi kemanusiaan yang sering terabaikan. Pameran ini mengajak kita untuk lebih peka, mendengar suara batin, dan menemukan makna dari hal-hal yang mungkin selama ini luput kita rasakan.

(Sumber gambar: suara.com)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait