Monochrome as Manifesto: Ketika Pembatasan Justru Memantik Keberanian Seniman

Friday, 06 February 2026 14:58:37

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Bandung

Grey Award 2026 tidak sekadar menjadi pameran seni rupa, tetapi juga ajang penghargaan yang menantang cara berpikir seniman. Mengusung tema “Monochrome as Manifesto”, Grey Art Gallery memposisikan monokrom sebagai sikap artistik, bukan sekadar gaya visual. Hitam, putih, dan abu-abu dijadikan medan eksplorasi gagasan.

Menurut CEO Grey Art Gallery, Angga Aditya Atmadilaga, pembatasan warna justru menjadi tantangan penting bagi seniman. Dalam keterbatasan tersebut, seniman diuji untuk menghadirkan ketajaman ide, kepekaan visual, dan keberanian bereksperimen dengan medium. Monokrom dipahami sebagai pernyataan sikap seperti jujur, tegas, dan reflektif.

Antusiasme terhadap Grey Award 2026 terlihat dari tingginya jumlah partisipan yang mendaftar. Dari proses seleksi tersebut, terpilih 60 seniman dengan latar belakang dan pendekatan artistik yang beragam. Hasilnya, pameran ini menampilkan karya-karya yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga konseptual.

Di ruang pamer, karya dua dimensi dipajang berdampingan dengan instalasi dan karya dinding berskala besar. Susunan ini menciptakan dialog antarkarya, memperkaya pengalaman pengunjung. Grey Award 2026 menunjukkan bahwa pembatasan tidak selalu berarti pengekangan. Dalam konteks ini, monokrom justru menjadi alat untuk menegaskan identitas, sikap, dan keberanian seniman dalam berkarya.

(Sumber gambar: @greyartgallery47)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait