Menutup Mata untuk Merasakan: Sunyi yang Bicara dalam Karya “I Closed My Eyes Before I Disappear”

Saturday, 21 February 2026 07:31:44

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang serba cepat, sebuah karya berjudul I Closed My Eyes Before I Disappear hadir sebagai ruang hening untuk berhenti sejenak. Karya digital art berukuran A2 ini dipamerkan dalam pameran Artbility yang diselenggarakan oleh UKM SRD Unnes di Gedung B9 FBS Unnes.

Karya ini menampilkan sosok manusia dengan mata terpejam dan sayap yang tumbuh dari tubuhnya. Namun, mata yang tertutup bukan tanda penolakan terhadap dunia. Justru sebaliknya, ia menjadi simbol upaya merasakan keberadaan dari dalam diri. Sang tokoh tidak ingin dilihat, tidak ingin diingat, hanya ingin hadir sejenak sebelum perlahan memudar.

Sayap yang melekat pada tubuhnya juga tidak digambarkan sebagai lambang kebebasan atau keabadian. Sayap itu rapuh, diam, dan tidak sedang terbang. Ia menjadi simbol harapan yang pernah ingin melayang tinggi, tetapi akhirnya memilih untuk berhenti. Dalam diam itu, tersimpan kelelahan, penerimaan, dan kejujuran terhadap diri sendiri.

Karya ini berbicara tentang keberadaan yang pelan-pelan dilupakan. Tentang manusia yang berada di antara hadir dan menghilang, tanpa suara, tanpa tuntutan. Tubuh dalam karya ini menjadi ruang sunyi tempat ingatan dan kehilangan bertemu.

Melalui visual yang tenang dan simbol yang kuat, I Closed My Eyes Before I Disappear mengajak penonton untuk merenung. Bahwa terkadang yang paling nyata bukanlah keramaian, melainkan keheningan yang tertinggal ketika seseorang hampir menghilang. Karya ini menjadi pengingat sederhana bahwa sunyi pun bisa berbicara.

(Sumber gambar: katalog karya artbility #6)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait