Memorable with Trouble: Seni sebagai Medan Perang, Pemulihan, dan Transformasi

Friday, 16 January 2026 04:00:18

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Solo

Pameran Memorable with Trouble di Matterial Coffee menghadirkan wajah seni rupa yang jujur dan apa adanya. Di sini, seni tidak tampil sebagai sesuatu yang selesai dan rapi, melainkan sebagai proses panjang menghadapi konflik hidup, baik ekonomi, mental, maupun identitas diri.

Transformasi menjadi tema penting dalam beberapa karya. Alfiatun Dwi Budiasih, lewat lukisan Swallowtail, menggunakan simbol kupu-kupu untuk menggambarkan perubahan hidup yang berkilau. Karya ini berbicara tentang proses menjadi bahwa keindahan sering kali lahir setelah fase gelap yang tidak mudah dilalui.

Nada berbeda muncul dari karya Memorable War with Art milik Bayu Nugroho Adi Saputro. Ia memosisikan dirinya sebagai prajurit di medan perang seni rupa, berhadapan langsung dengan persoalan ekonomi dan keterbatasan kemampuan. Karya ini terasa lugas, nyaris brutal, namun justru di situlah kejujurannya, seni sebagai perjuangan, bukan romantisasi.

Sementara itu, Fadhila Rizki N menghadirkan proses pemulihan diri melalui Yang Tersisa, Yang Menguatkan. Karya ini merangkai ulang pecahan diri akibat depresi dan ambisi yang runtuh. Jakquellyn Tiara Reray juga mengolah memori secara tak biasa lewat tekstil dalam Resonasi Lapisan yang Tak Selesai menyusun lapisan kain sebagai simbol ingatan yang tak pernah benar-benar utuh.

Melalui pameran ini, Matterial Coffee menjadi ruang temu antara kopi, seni, dan cerita manusia. Memorable with Trouble menegaskan bahwa masalah bukan sesuatu yang harus disembunyikan, justru di sanalah seni menemukan denyutnya.

(Sumber gambar: @matterialcoffee)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait