Luruh: Ketika Seni Menjadi Ruang Pulih dalam Pameran Tunggal ”Kedamaian yang Luruh”

Monday, 09 March 2026 06:15:48

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Tidak semua luka bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada pengalaman hidup yang terlalu rumit untuk diceritakan secara langsung. Dalam situasi seperti itu, seni sering kali menjadi ruang alternatif untuk menyalurkan perasaan yang sulit diungkapkan.

Hal inilah yang juga dirasakan oleh Friesta Pasha, mahasiswi Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (UNNES). Melalui pameran tunggal bertajuk Luruh, Friesta menghadirkan karya-karya yang lahir dari pengalaman batin yang tidak selalu mudah. Bagi dirinya, proses berkarya bukan sekadar memenuhi tugas akademik, tetapi juga menjadi cara untuk memahami diri sendiri.

Setiap karya yang ditampilkan menjadi bentuk refleksi atas perjalanan emosi yang pernah ia alami. Rasa sakit, keraguan, hingga proses menerima keadaan diterjemahkan ke dalam visual yang sederhana namun penuh makna. Melalui proses tersebut, seni berubah menjadi ruang penyembuhan yang perlahan membantu seseorang berdamai dengan masa lalu.

Friesta percaya bahwa pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, dapat memperkaya proses kreatif seorang seniman. Justru dari pengalaman itulah muncul kejujuran dalam karya.

Pameran ini mengingatkan bahwa seni tidak selalu harus megah atau rumit. Kadang, ia hadir sebagai ruang yang tenang untuk memahami diri sendiri. Dari sana, seseorang belajar bahwa luka tidak selalu harus dilawan. Terkadang, luka hanya perlu diterima agar perlahan bisa pulih.

(Sumber gambar: doc. liputan PT Rasa Kreasi Karya)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait