Lebih dari Pameran: Garis Kolektif sebagai Ruang Temu, Musik, dan Energi Jalanan

Wednesday, 14 January 2026 06:43:09

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Surakarta

Pameran “Garis Kolektif” di Surakarta tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga menghadirkan suasana perayaan seni yang hidup dan inklusif. Selama satu bulan penyelenggaraan, pameran ini menjadi ruang temu lintas disiplin yang mempertemukan seni rupa, musik, dan budaya jalanan dalam satu ekosistem kreatif.

Dibuka pada 20 Desember 2025, pameran ini menampilkan karya-karya baru dari 14 perupa alumni Pendidikan Seni Rupa yang memiliki latar dan kecenderungan artistik beragam. Namun, Garis Kolektif tidak berhenti pada ruang galeri. Pada hari pembukaan, publik disuguhi rangkaian acara tambahan seperti jamming graffiti dan pertunjukan musik dari seniman lintas genre. Aktivitas ini menegaskan bahwa seni tidak selalu harus hadir dalam format formal dan senyap.

Wakil Ketua Pameran, Yoga Adhi Agista, menyebut bahwa meski seluruh karya merupakan produksi baru, gagasan di baliknya telah lama hidup dalam pengalaman personal para seniman. Pendekatan ini sejalan dengan semangat kolektif: seni sebagai proses yang terus bergerak, bukan sekadar hasil akhir.

Kehadiran graffiti dan musik memperluas jangkauan audiens pameran, menarik generasi muda yang mungkin tidak akrab dengan ruang seni rupa konvensional. Garis Kolektif pun menjelma menjadi ruang dialog, antara masa lalu dan masa kini, antara seni akademik dan ekspresi jalanan.

Dengan pendekatan yang terbuka dan kolaboratif, Garis Kolektif membuktikan bahwa pameran seni bisa menjadi ruang sosial yang hangat, dinamis, dan relevan dengan denyut kehidupan kota.

(Sumber gambar: rri.co.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait