Lawan AI dengan Seni: Mengapa Spiritual dan Budaya Penting untuk Masa Depan Bangsa?

Wednesday, 04 March 2026 15:14:39

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Dunia saat ini sedang tergila-gila dengan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Namun, di tengah kecanggihan mesin, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh algoritma: kedalaman batin dan spirit manusia. Hal inilah yang ditekankan oleh Gubernur Lemhannas RI, TB. Ace Hasan Syadzily, saat mengunjungi pameran “Ruang Tafakur” di Jakarta.

Menurut beliau, di era serba otomatis ini, ruang seni dan spiritualitas menjadi sangat penting untuk menjaga keseimbangan mental bangsa. Mengapa demikian? Karena ketahanan nasional sebuah negara tidak hanya diukur dari kekuatan militer atau ekonominya saja, tetapi juga dari ketahanan budayanya. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki spirit dan akar budaya yang kokoh.

Dalam pameran tersebut, kita diajak melihat betapa beragamnya persepsi tentang Islam. Gus Yahya sempat mengenang tren musik tahun 2000-an yang menampilkan simbol-simbol Arab secara harfiah, bahkan sampai membawa unta ke dalam studio. Namun, lewat pameran “Ruang Tafakur”, kita belajar bahwa Islam sebagai budaya jauh lebih luas dari sekadar pakaian atau simbol fisik. Islam bisa hadir dalam bentuk abstrak, garis-garis modern, atau instalasi seni yang mengasah intelektual kita.

Keberagaman latar belakang 20 seniman dalam pameran ini juga menjadi simbol indahnya pluralisme di Indonesia. Ketika para seniman lintas generasi bersatu menunjukkan karya yang bernapas Islam, mereka sebenarnya sedang merayakan persatuan dalam perbedaan.

Kesimpulannya, seni bukan hanya hobi atau pajangan di dinding galeri. Seni adalah benteng terakhir manusia untuk tetap “menjadi manusia” di tengah gempuran teknologi. Dengan mengapresiasi seni dan mendalami spiritualitas, mental bangsa kita akan terus berkembang dan memiliki daya tahan yang kuat menghadapi tantangan zaman. Sudahkah Anda “menepi” sejenak hari ini untuk merenung?

(Sumber gambar: kompas.tv)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait