Ketika Seni Menjadi Arsip Perlawanan: Taring Padi dan Jejak Panjang Perjuangan Kendeng

Tuesday, 13 January 2026 07:27:14

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Festival Kendeng 2025 di Dukuh Misik, Pati, tidak sekadar menjadi ruang perayaan budaya, tetapi juga medan ingatan kolektif. Di tengah rangkaian acara, komunitas seni Taring Padi menghadirkan karya-karya lukis yang merekam secara visual perjalanan panjang perjuangan masyarakat Pegunungan Kendeng melawan kerusakan lingkungan. Salah satu karya yang paling mencolok adalah lukisan raksasa berjudul Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi.

Dengan ukuran 4×6 meter, lukisan ini tampil sebagai arsip visual perlawanan. Dua sisi kontras yang dihadirkan, antara wajah-wajah pejuang Kendeng dan representasi kekuasaan, menjadi simbol tarik-ulur antara keberlanjutan alam dan kepentingan industri. Kehadiran figur Samin Surosentiko hingga dokumentasi aksi cor kaki di depan Istana Presiden memperkuat posisi karya ini sebagai penanda sejarah gerakan rakyat.

Proses kreatif yang memakan waktu berpekan-pekan menegaskan bahwa karya ini lahir bukan dari jarak, melainkan dari keterlibatan langsung. Diskusi intensif dengan warga menjadi fondasi utama penciptaan, menjadikan seni sebagai medium belajar bersama. Bagi Taring Padi, seni tidak berhenti pada estetika, melainkan berfungsi sebagai alat dokumentasi sosial dan politik.

Ditampilkan kembali di Festival Kendeng 2025, karya ini seakan “pulang” ke tanah perjuangannya. Seni, dalam konteks ini, tidak berdiri di galeri elitis, tetapi hidup di tengah masyarakat yang kisahnya ia ceritakan.

(Sumber gambar: betanews.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait