Ketika Lukisan Menjadi Bahasa Damai: Resonansi Trinity Art di JIAF 2025

Tuesday, 27 January 2026 08:15:59

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Yogyakarta

Di tengah riuh Jogja International Art Fair (JIAF) 2025, ada satu ruang yang terasa lebih hening, tetapi justru paling berbicara: Trinity Art karya Sam Sianata. Tanpa perlu narasi panjang atau slogan verbal, karya-karya yang dipamerkan menghadirkan pengalaman batin yang mengajak pengunjung berhenti sejenak, menafsir, dan merasakan.

Trinity Art bukan sekadar kumpulan lukisan. Ia bekerja sebagai bahasa simbolik yang menyentuh lapisan spiritual dan kemanusiaan. Warna, figur, dan komposisi yang dihadirkan Sam Sianata menyiratkan pesan persatuan, kedamaian, serta kesetaraan manusia, nilai-nilai yang terasa relevan di tengah dunia yang kerap terfragmentasi oleh perbedaan.

Inilah yang membuat kehadiran Trinity Art di JIAF 2025 menjadi penting. Seni tidak diposisikan sebagai objek konsumsi visual semata, melainkan sebagai medium soft diplomacy. Tanpa perdebatan, tanpa propaganda, karya-karya ini menyampaikan pesan lintas budaya yang bisa diterima siapa saja, dari latar belakang mana pun.

Penutupan JIAF bukanlah penutup makna. Justru sebaliknya, gagasan yang ditinggalkan Trinity Art terus beresonansi di benak pengunjung. Banyak yang keluar dari ruang pamer dengan perasaan “dibawa pulang” oleh karya, bukan dalam bentuk barang, tetapi pengalaman.

Trinity Art menegaskan bahwa seni rupa Indonesia memiliki kapasitas untuk berdialog di level global, bukan dengan meniru, melainkan dengan karakter dan kedalaman nilai. Di tangan Sam Sianata, lukisan menjadi lebih dari estetika: ia menjadi bahasa damai yang sunyi, namun kuat.

(Sumber gambar: @jiaf25)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait