Ketika Luka Lama Menjadi Bahasa Visual: Pameran “Garis Kolektif” di Surakarta

Wednesday, 14 January 2026 06:40:07

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Surakarta

Pameran seni rupa “Garis Kolektif” yang digelar di Surakarta menghadirkan lebih dari sekadar pertemuan karya. Ia menjadi ruang refleksi bersama bagi 14 perupa alumni Pendidikan Seni Rupa yang kembali menyatukan perjalanan kreatif mereka setelah bertahun-tahun berjalan di jalur masing-masing. Dibuka pada Sabtu, 20 Desember 2025, pameran ini menandai kerinduan kolektif untuk kembali berproses dalam satu ruang dan waktu.

Mengusung tema Memorable Trouble, pameran ini menyoroti fragmen persoalan hidup di masa lalu seperti luka, kegelisahan, dan ingatan personal yang diolah ulang menjadi sumber keberanian artistik. Setiap karya hadir sebagai narasi visual yang berbeda, mencerminkan pengalaman hidup masing-masing seniman. Di sinilah pameran ini menemukan kekuatannya: tidak seragam, namun terikat oleh benang emosional yang sama.

Ketua pameran, Kartika Oktavianti, menjelaskan bahwa Garis Kolektif berangkat dari komunitas Koncotani yang telah aktif menggelar pameran sejak 2019. Meski sempat terpisah oleh kesibukan dan jarak, ikatan kreatif itu tak benar-benar putus. Garis Kolektif menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya proses bersama dalam praktik seni.

Seluruh karya yang dipamerkan merupakan karya baru, meskipun akar persoalannya berasal dari pengalaman lama. Hal ini menunjukkan bahwa ingatan bukanlah beban, melainkan bahan baku yang terus hidup dalam proses kreatif. Melalui Garis Kolektif, para seniman mengajak publik melihat bahwa seni dapat menjadi medium penyembuhan sekaligus perlawanan yang sunyi namun bermakna.

(Sumber gambar: rri.co,id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait