Ketika Kota Tak Lagi Ramah: Kegelisahan Urban dalam Pameran “Sisa Sisi Kota”

Monday, 26 January 2026 06:25:11

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Batang

Perubahan wajah kota sering kali datang diam-diam, tetapi dampaknya terasa nyata. Hal itulah yang coba disuarakan para perupa Komunitas Serbuk Pensil lewat pameran Land Art 3 bertajuk “Sisa Sisi Kota”. Digelar menjelang akhir 2025, pameran ini menjadi ruang refleksi atas transformasi Batang yang kian bergerak menuju kota industri.

Sebanyak 21 perupa asli Batang, lintas generasi dari nama senior hingga perupa Gen Z, menghadirkan karya yang merekam kegelisahan urban. Lanskap kota yang dulu akrab kini berubah oleh beton, pabrik, dan pembangunan masif. Semua itu diterjemahkan ke atas kanvas melalui sudut pandang personal masing-masing seniman.

Alih-alih menampilkan romantisme kota, karya-karya yang dipamerkan justru menyorot sisi-sisi yang kerap luput diperhatikan: ruang yang tergerus, tradisi yang terpinggirkan, hingga identitas lokal yang perlahan memudar. Kota tak lagi hanya tempat tinggal, tetapi juga sumber kegelisahan yang terus dipertanyakan.

Ketua panitia Land Art 3, Bayhaqi Januar menyebut pameran ini bukan sekadar hiburan akhir tahun. Ia menjadi medium kritik sekaligus ajakan untuk melihat Batang dari perspektif yang lebih jujur. Kota, dalam karya-karya ini, hadir sebagai entitas hidup yang tengah mengalami konflik dengan manusia itu sendiri.

Diselenggarakan secara gratis di Sekretariat DKD Batang, pameran ini membuktikan bahwa seni rupa bisa menjadi ruang dialog publik. Lewat “Sisa Sisi Kota”, para perupa Batang mengajak pengunjung berhenti sejenak, menengok kembali kota yang sedang berubah, dan bertanya: ke mana arah kita melangkah?

(Sumber gambar: rmoljawatengah.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait