Ketika Karya Menjadi Ruang Dialog: Antusiasme Publik di Sekitar Trinity Art JIAF 2025

Tuesday, 27 January 2026 08:11:20

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Yogyakarta

Pameran seni kerap dinikmati sebagai pengalaman visual. Namun, di Jogja International Art Fair (JIAF) 2025, sejumlah karya melampaui fungsi tersebut dan menjelma menjadi ruang dialog. Salah satunya adalah Trinity Art karya Sam Sianata, maestro yang dijuluki publik sebagai “pelukis satu triliun”.

Sejak hari pertama pameran, area tempat Trinity Art dipajang nyaris tak pernah sepi. Pengunjung dari beragam latar belakang, mulai dari kolektor, kurator, mahasiswa seni, hingga masyarakat umum, terlihat berhenti, mengamati detail, lalu terlibat percakapan. Fenomena ini menunjukkan bahwa karya seni masih mampu memantik interaksi sosial yang bermakna.

Kekuatan Trinity Art terletak pada kemampuannya menyentuh isu universal tanpa kehilangan kedalaman artistik. Sam Sianata menanamkan pesan tentang persaudaraan dan kesadaran kolektif, tanpa menggurui. Karya ini memberi ruang bagi pengunjung untuk menafsir, bukan menerima makna secara tunggal.

Antusiasme tersebut juga tercermin dari kunjungan tokoh publik. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyempatkan diri beranjangsana dan berdialog langsung dengan Sam. Momen ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi jembatan komunikasi antara seniman dan pemangku kebijakan.

Di tengah arus pameran yang kerap berorientasi pasar, kehadiran Trinity Art mengingatkan bahwa seni tetap memiliki fungsi sosial dan reflektif. JIAF 2025 pun menjadi bukti bahwa ketika karya menawarkan gagasan yang jujur dan relevan, publik tidak hanya melihat, tetapi juga terlibat.

(Sumber gambar: @jiaf25)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait