Karya “How It Go How It Ends” Airlangga Soroti Siklus Sejarah Penjajahan di Indonesia

Sunday, 22 March 2026 01:42:14

Written by Ning Imas Ati Z. 

 Semarang, Jawa Tengah

Sebuah karya seni berjudul “How It Go How It Ends” karya perupa Airlangga menyoroti pembacaan ulang terhadap perjalanan sejarah Indonesia, khususnya terkait kedatangan bangsa Barat hingga masa penjajahan yang berulang.

Dalam karyanya, Airlangga mengangkat narasi awal mula kedatangan bangsa Barat ke Nusantara yang pada mulanya berlangsung melalui jalur perdagangan. Interaksi yang semula berjalan damai tersebut kemudian berubah seiring munculnya ketimpangan dan praktik ketidakadilan terhadap masyarakat lokal.

Perubahan situasi itu, menurut Airlangga, menjadi titik awal masuknya kekuatan militer Barat yang perlahan mengambil alih kekuasaan. Kondisi tersebut memicu perlawanan dari berbagai tokoh dan pahlawan di Indonesia, yang berujung pada konflik bersenjata antara pihak penjajah dan rakyat.

Namun, karya ini tidak hanya berhenti pada fase peperangan. Airlangga justru menyoroti bahwa konflik tersebut tidak benar-benar berakhir secara tuntas. Ia menggambarkan adanya siklus sejarah di mana penjajahan berlangsung, kemudian mereda melalui perjanjian damai yang bersifat sementara.

“Sejarah seperti berputar. Ada fase damai, konflik, lalu damai lagi, tapi tidak pernah benar-benar selesai,” ungkap Airlangga dalam keterangannya.

Melalui pendekatan tersebut, “How It Go How It Ends” menghadirkan refleksi bahwa pola relasi kuasa di masa lalu cenderung berulang. Perdamaian yang tercipta kerap hanya menjadi jeda sebelum konflik serupa kembali terjadi di masa berikutnya.

Karya ini sekaligus mengajak publik untuk melihat sejarah tidak sebagai peristiwa yang selesai, melainkan sebagai rangkaian siklus yang terus berulang dan membentuk kesadaran kolektif bangsa hingga hari ini.

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait