IP Bukan Lagi Urusan Hukum: Saat Public Relations Jadi Mesin Utama Literasi Kekayaan Intelektual
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat
Semarang
Kekayaan intelektual (KI) selama ini kerap dipersepsikan sebagai ranah hukum yang rumit dan jauh dari keseharian publik. Namun, pandangan itu mulai bergeser. Hal ini terlihat dari penyelenggaraan Intellectual Property Public Relations (IP PR) Summit 2025 oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Acara ini menegaskan satu pesan penting: PR kini memegang peran strategis dalam menghidupkan narasi KI di ruang publik.
Dalam sambutannya, Dirjen KI Hermansyah Siregar menekankan pentingnya sinergi antara praktisi kehumasan dan ekosistem KI yang tersebar di seluruh Indonesia. Tujuannya bukan sekadar sosialisasi regulasi, melainkan membangun kesadaran kolektif agar masyarakat memahami nilai ekonomi, budaya, dan kreativitas dari kekayaan intelektual.
Di era digital, komunikasi tidak lagi cukup disampaikan lewat bahasa formal dan dokumen panjang. PR dituntut mampu menerjemahkan konsep KI menjadi cerita yang relevan, dekat, dan mudah dipahami. Di sinilah peran strategis PR bekerja: menjembatani dunia regulasi dengan realitas audiens.
IP PR Summit 2025 menjadi sinyal bahwa negara mulai memandang komunikasi sebagai bagian tak terpisahkan dari perlindungan dan pemanfaatan KI. Dengan strategi PR yang tepat, kekayaan intelektual tidak hanya dipahami sebagai hak eksklusif, tetapi juga sebagai aset bersama yang bisa mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
(Sumber gambar: prindonesia.co)
Edited by
Setiya Adi Buono
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
