Gebyuran Bustaman: Perang Air Menyambut Ramadhan di Jantung Kota Semarang
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat
Semarang
Setiap daerah memiliki cara unik untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Di Semarang, salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah Gebyuran Bustaman. Tradisi ini rutin digelar di Kampung Bustaman menjelang awal puasa.
Gebyuran Bustaman dikenal sebagai ritual perang air yang sarat makna simbolik. Warga saling menyiramkan air sebagai lambang penyucian diri sebelum menjalani ibadah puasa. Tradisi ini bukan sekadar permainan, tetapi memiliki akar sejarah panjang sejak tahun 1742. Ritual tersebut pertama kali dipelopori oleh Kyai Bustam, yang kala itu menyirami cucunya sebagai simbol pembersihan diri menjelang Ramadhan.
Seiring waktu, tradisi ini sempat terhenti. Namun, sejak tahun 2012, warga Kampung Bustaman kembali menghidupkannya dengan semangat kebersamaan. Kini, Gebyuran Bustaman selalu disambut antusias oleh masyarakat. Prosesi diawali dengan mencoret wajah menggunakan berbagai warna seperti hijau, merah, biru, dan kuning. Coretan tersebut melambangkan dosa dan kesalahan manusia. Setelah itu, warga saling menggebyur air sebagai simbol membersihkan diri lahir dan batin.
Uniknya, air yang digunakan tidak hanya air biasa, tetapi juga air berwarna yang dibungkus plastik, bahkan ada yang memakai ember dan selang. Suasana kampung pun berubah menjadi ruang perayaan yang meriah dan penuh tawa.
Tradisi ini membuktikan bahwa nilai religius bisa dirayakan dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan penuh makna, sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Semarang.
(Sumber gambar: regional.kompas.com)
Edited by
Desyfa Cahya Aina
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
