Gebyuran Bustaman: Perang Air Menyambut Ramadhan di Jantung Kota Semarang

Monday, 16 February 2026 14:41:01

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Setiap daerah memiliki cara unik untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Di Semarang, salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah Gebyuran Bustaman. Tradisi ini rutin digelar di Kampung Bustaman menjelang awal puasa.

Gebyuran Bustaman dikenal sebagai ritual perang air yang sarat makna simbolik. Warga saling menyiramkan air sebagai lambang penyucian diri sebelum menjalani ibadah puasa. Tradisi ini bukan sekadar permainan, tetapi memiliki akar sejarah panjang sejak tahun 1742. Ritual tersebut pertama kali dipelopori oleh Kyai Bustam, yang kala itu menyirami cucunya sebagai simbol pembersihan diri menjelang Ramadhan.

Seiring waktu, tradisi ini sempat terhenti. Namun, sejak tahun 2012, warga Kampung Bustaman kembali menghidupkannya dengan semangat kebersamaan. Kini, Gebyuran Bustaman selalu disambut antusias oleh masyarakat. Prosesi diawali dengan mencoret wajah menggunakan berbagai warna seperti hijau, merah, biru, dan kuning. Coretan tersebut melambangkan dosa dan kesalahan manusia. Setelah itu, warga saling menggebyur air sebagai simbol membersihkan diri lahir dan batin.

Uniknya, air yang digunakan tidak hanya air biasa, tetapi juga air berwarna yang dibungkus plastik, bahkan ada yang memakai ember dan selang. Suasana kampung pun berubah menjadi ruang perayaan yang meriah dan penuh tawa.

Tradisi ini membuktikan bahwa nilai religius bisa dirayakan dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan penuh makna, sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Semarang.

(Sumber gambar: regional.kompas.com)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait