Di Balik Arsip dan Lakon Legendaris: Pameran Milestone sebagai Ruang Kemanusiaan Teater Sado
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat
Kuningan
Setiap karya seni menyimpan cerita yang tak selalu terlihat di atas panggung. Pameran Milestone Teater Sado membuka ruang untuk melihat sisi lain dari proses berkesenian: sisi kemanusiaan yang penuh keringat, tangis, dan tawa. Inilah yang ditekankan oleh Dr. Bias Lintang Dialog saat mewakili Yayasan Sado, bahwa seni lahir dari pengalaman manusia yang dirawat lintas generasi.
Melalui arsip dan karya yang dipamerkan, pengunjung diajak menyelami proses panjang Teater Sado sejak awal berdiri. Visualisasi naskah, foto pementasan, hingga tulisan reflektif para seniman tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga saksi hidup dari dinamika komunitas teater yang tumbuh bersama masyarakatnya.
Tema besar “Harmoni Alam dan Budaya: Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan” terasa relevan. Teater Sado tidak memosisikan seni sebagai ruang elitis, melainkan sebagai medium dialog antara tradisi dan perubahan, antara generasi lama dan generasi baru. Pameran ini menjadi bukti bahwa arsip seni bukan benda mati, melainkan ruang belajar yang terus berbicara.
Puncak pameran pada 24 Januari 2026 dirancang sebagai perayaan kolaborasi. Beragam pertunjukan lintas disiplin dihadirkan, mulai dari musik Karimba oleh LSM AKAR, tari kontemporer Iing Sayuti, tari topeng losari oleh maestro Nani Sawitri, hingga musik garapan Yusuf Oeblet.
Sebagai klimaks, Teater Sado kembali mementaskan lakon legendaris “Ada Mayat Kentut” karya Aan Sugianto Mas, sebuah karya yang pernah menjadi tonggak perjalanan mereka pada tahun 2002. Lebih dari sekadar pementasan ulang, lakon ini menjadi penanda bahwa ingatan, proses, dan nilai kemanusiaan dalam seni layak terus dihidupkan, bukan dilupakan.
(Sumber gambar: rri.co.id)
Edited by
Setiya Adi Buono
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
