Di Balik Arsip dan Lakon Legendaris: Pameran Milestone sebagai Ruang Kemanusiaan Teater Sado

Thursday, 29 January 2026 08:34:13

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Kuningan

Setiap karya seni menyimpan cerita yang tak selalu terlihat di atas panggung. Pameran Milestone Teater Sado membuka ruang untuk melihat sisi lain dari proses berkesenian: sisi kemanusiaan yang penuh keringat, tangis, dan tawa. Inilah yang ditekankan oleh Dr. Bias Lintang Dialog saat mewakili Yayasan Sado, bahwa seni lahir dari pengalaman manusia yang dirawat lintas generasi.

Melalui arsip dan karya yang dipamerkan, pengunjung diajak menyelami proses panjang Teater Sado sejak awal berdiri. Visualisasi naskah, foto pementasan, hingga tulisan reflektif para seniman tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga saksi hidup dari dinamika komunitas teater yang tumbuh bersama masyarakatnya.

Tema besar “Harmoni Alam dan Budaya: Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan” terasa relevan. Teater Sado tidak memosisikan seni sebagai ruang elitis, melainkan sebagai medium dialog antara tradisi dan perubahan, antara generasi lama dan generasi baru. Pameran ini menjadi bukti bahwa arsip seni bukan benda mati, melainkan ruang belajar yang terus berbicara.

Puncak pameran pada 24 Januari 2026 dirancang sebagai perayaan kolaborasi. Beragam pertunjukan lintas disiplin dihadirkan, mulai dari musik Karimba oleh LSM AKAR, tari kontemporer Iing Sayuti, tari topeng losari oleh maestro Nani Sawitri, hingga musik garapan Yusuf Oeblet.

Sebagai klimaks, Teater Sado kembali mementaskan lakon legendaris “Ada Mayat Kentut” karya Aan Sugianto Mas, sebuah karya yang pernah menjadi tonggak perjalanan mereka pada tahun 2002. Lebih dari sekadar pementasan ulang, lakon ini menjadi penanda bahwa ingatan, proses, dan nilai kemanusiaan dalam seni layak terus dihidupkan, bukan dilupakan.

(Sumber gambar: rri.co.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait