Dari Impasto ke Empati: Walking in Grace dan Cara Seni Merawat Rasa Syukur

Thursday, 29 January 2026 08:19:09

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Banyumas

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, seni kerap hadir sebagai ruang jeda, tempat manusia belajar kembali merasakan syukur. Hal inilah yang ditawarkan pelukis Banyumas, Chune Ebeg Mayong, melalui pameran tunggal bertajuk Walking in Grace di Heterospace. Pameran yang berlangsung selama tiga hari ini bukan sekadar ajang pamer karya, melainkan perayaan kegembiraan yang lahir dari rasa bersyukur.

Berbeda dari pameran-pameran sebelumnya yang kuat mengangkat identitas budaya lokal, Chune memilih pendekatan yang lebih personal dan emosional. Dengan teknik ekspresif impasto, ia menumpahkan warna-warna tebal dan sapuan spontan ke dalam tema bunga, alam, hingga penari lengger. Setiap kanvas seolah mengajak penonton berjalan pelan untuk menikmati hidup dengan hati yang lapang.

Lengger, sebagai ikon budaya Banyumas, tetap hadir bukan sebagai simbol folklor semata, melainkan sebagai wujud kegembiraan kolektif. Dalam lukisan-lukisan Chune, lengger menari tanpa beban narasi berat; ia hadir sebagai energi, sebagai denyut kehidupan masyarakat Banyumas yang hangat dan terbuka.

Rangkaian pertunjukan seni yang mengiringi pameran ini semakin menegaskan bahwa Walking in Grace adalah ruang perjumpaan lintas ekspresi. Tari cilik, wayang kerupuk, hingga diskusi antar seniman menjadi bagian dari pengalaman estetis yang utuh, bukan hanya dilihat, tetapi dirasakan bersama.

Tingginya antusiasme pengunjung dan penjualan karya menunjukkan bahwa publik merespons positif seni yang jujur dan membumi. Melalui Walking in Grace, Chune membuktikan bahwa seni rupa tidak harus rumit untuk bermakna. Kadang, cukup dengan warna, gerak, dan rasa syukur, seni mampu menyentuh empati paling dasar manusia.

(Sumber gambar: rri.co.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait