“Coronation and Divine Right”, Karya Airlangga Kritik Ilusi Kesucian Kekuasaan Abad Pertengahan
Written by Ning Imas Ati Z.
Semarang, Jawa Tengah
Perupa Airlangga menghadirkan pembacaan kritis terhadap sistem kekuasaan abad pertengahan melalui karya berjudul “Coronation and Divine Right”. Karya ini menyoroti bagaimana legitimasi kekuasaan raja dibangun melalui ritual sakral yang melibatkan bangsawan dan pemuka agama.
Dalam narasi visualnya, Airlangga menggambarkan proses penobatan raja yang dilakukan di hadapan para bangsawan dan pastor. Momen tersebut ditampilkan sebagai simbol persatuan, di mana seluruh elemen kerajaan berkumpul untuk memilih dan mengangkat pemimpin baru dengan harapan terciptanya stabilitas dan perdamaian.
Konsep divine right atau hak ilahi menjadi sorotan utama dalam karya ini. Keyakinan bahwa raja dipilih langsung oleh Tuhan membuat kekuasaan dianggap suci dan tidak dapat diganggu gugat. “Ada keyakinan bahwa dengan sistem ini, kerajaan akan damai karena pemimpinnya dianggap pilihan Tuhan,” ujar Airlangga.
Namun, karya ini justru mengungkap paradoks di balik keyakinan tersebut. Alih-alih menciptakan stabilitas jangka panjang, sistem yang dianggap sakral itu dalam praktiknya kerap memicu konflik, termasuk perang saudara di masa berikutnya.
Airlangga menampilkan bagaimana harapan akan perdamaian yang dibangun melalui legitimasi religius justru berujung pada perebutan kekuasaan. Ketika klaim “dipilih oleh Tuhan” digunakan sebagai dasar politik, perbedaan kepentingan di antara elit kerajaan menjadi sulit diselesaikan secara rasional.
Melalui “Coronation and Divine Right”, Airlangga mengajak publik untuk melihat bahwa sistem politik yang dibungkus dengan nilai kesucian tidak selalu menghasilkan keadilan atau kedamaian. Karya ini menjadi refleksi bahwa di balik simbol-simbol sakral, kekuasaan tetaplah arena kepentingan yang rentan terhadap konflik.
Edited by
Desyfa Cahya Aina
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
