Karya “How It Go How It Ends” Airlangga Soroti Siklus Sejarah Penjajahan di Indonesia
Written by Ning Imas Ati Z.
Semarang, Jawa Tengah
Sebuah karya seni berjudul “How It Go How It Ends” karya perupa Airlangga menyoroti pembacaan ulang terhadap perjalanan sejarah Indonesia, khususnya terkait kedatangan bangsa Barat hingga masa penjajahan yang berulang.
Dalam karyanya, Airlangga mengangkat narasi awal mula kedatangan bangsa Barat ke Nusantara yang pada mulanya berlangsung melalui jalur perdagangan. Interaksi yang semula berjalan damai tersebut kemudian berubah seiring munculnya ketimpangan dan praktik ketidakadilan terhadap masyarakat lokal.
Perubahan situasi itu, menurut Airlangga, menjadi titik awal masuknya kekuatan militer Barat yang perlahan mengambil alih kekuasaan. Kondisi tersebut memicu perlawanan dari berbagai tokoh dan pahlawan di Indonesia, yang berujung pada konflik bersenjata antara pihak penjajah dan rakyat.
Namun, karya ini tidak hanya berhenti pada fase peperangan. Airlangga justru menyoroti bahwa konflik tersebut tidak benar-benar berakhir secara tuntas. Ia menggambarkan adanya siklus sejarah di mana penjajahan berlangsung, kemudian mereda melalui perjanjian damai yang bersifat sementara.
“Sejarah seperti berputar. Ada fase damai, konflik, lalu damai lagi, tapi tidak pernah benar-benar selesai,” ungkap Airlangga dalam keterangannya.
Melalui pendekatan tersebut, “How It Go How It Ends” menghadirkan refleksi bahwa pola relasi kuasa di masa lalu cenderung berulang. Perdamaian yang tercipta kerap hanya menjadi jeda sebelum konflik serupa kembali terjadi di masa berikutnya.
Karya ini sekaligus mengajak publik untuk melihat sejarah tidak sebagai peristiwa yang selesai, melainkan sebagai rangkaian siklus yang terus berulang dan membentuk kesadaran kolektif bangsa hingga hari ini.
Edited by
Desyfa Cahya Aina
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
