Pulang Kampung: Ketika Seni Menjadi Cara Mengingat Rumah

Monday, 16 March 2026 12:59:37

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Bagi banyak orang, pulang kampung sering dipahami sebagai perjalanan kembali ke tempat asal. Namun dalam pameran kolektif “Pulang Kampung: Jeda, Memori, dan Ruang yang Menetap”, makna pulang tidak hanya tentang berpindah tempat. Pulang menjadi ruang emosional tempat seseorang berhenti sejenak, mengingat masa lalu, dan melihat kembali hubungan dengan kampung halaman.

Pameran yang digagas oleh Belajar Kelompok bersama Semarang Bojong Rotary Club ini menghadirkan karya dari 15 perupa dan perajin. Digelar di Tekodeko yang berada di kawasan Kota Lama Semarang, pameran ini menghadirkan berbagai medium seni yang beragam. Mulai dari ilustrasi digital, lukisan cat air di atas kertas, sulaman pada kain blacu, hingga karya yang memanfaatkan limbah perca dan eksplorasi 3D clay.

Setiap karya membawa cerita yang berbeda tentang kepulangan. Ada yang mengingat suasana rumah masa kecil, ada pula yang merefleksikan perubahan kampung halaman yang terus bergerak mengikuti waktu. Melalui karya-karya tersebut, para seniman mencoba mengajak pengunjung melihat bahwa pulang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan proses memahami kembali akar dan identitas diri.

Pada akhirnya, pameran ini menjadi ruang pertemuan antara memori pribadi dan pengalaman kolektif. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, “Pulang Kampung” mengingatkan bahwa setiap orang selalu memiliki tempat untuk kembali—setidaknya dalam ingatan.

Edited by

Desyfa Cahy Aina

 

Artikel atau postingan terkait