Belajar Melepaskan: Makna Kedamaian yang Luruh dalam Pameran Tunggal Fiesta Pasha

Monday, 09 March 2026 06:19:12

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Dalam hidup, tidak semua hal bisa kita pertahankan. Ada kalanya seseorang harus belajar melepaskan, meskipun keputusan itu terasa berat. Proses ini sering kali tidak mudah karena manusia terbiasa menggenggam apa yang dianggap penting.

Namun, justru dari proses melepaskan itulah banyak orang menemukan bentuk kedamaian yang baru. Kedamaian yang tidak lahir dari kemenangan atau keberhasilan, melainkan dari kemampuan menerima keadaan dengan lebih tenang.

Gagasan ini tercermin dalam pameran tunggal Luruh karya Friesta Pasha, mahasiswi Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (UNNES). Melalui karya-karyanya, Friesta mencoba menggambarkan perjalanan emosional seseorang saat menghadapi luka, keraguan, dan proses berdamai dengan diri sendiri.

Bagi Friesta, pengalaman hidup yang tidak selalu berjalan mulus justru menjadi sumber refleksi dalam berkarya. Ia melihat bahwa rasa sakit bukan hanya sesuatu yang harus dihindari, tetapi juga bagian dari proses bertumbuh. Dalam diam, seseorang belajar memahami dirinya lebih dalam.

Melalui karya visual yang ia tampilkan, Friesta mengajak penonton untuk melihat bahwa ketenangan tidak selalu datang dari menggenggam erat sesuatu. Terkadang, kedamaian justru hadir ketika seseorang berani melepaskan hal-hal yang sudah tidak lagi bisa dipertahankan. Di situlah makna “luruh” menjadi terasa. Bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai bentuk keberanian untuk menerima hidup apa adanya.

(Sumber gambar: doc. liputan PT Rasa Kreasi Karya)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait