Menatap Kematian Pertama: Jejak Sunyi Seorang Seniman dalam “Glancing at the First Death”

Saturday, 21 February 2026 07:33:57

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Di antara karya-karya yang dipamerkan dalam pameran Artbility, sebuah karya digital berjudul Glancing at the First Death menarik perhatian dengan suasana yang hening dan reflektif. Karya berukuran A2 ini dipamerkan oleh UKM SRD Unnes di Gedung B9 FBS Unnes dan menjadi ruang perenungan tentang perjalanan seorang seniman.

Glancing at the First Death berkisah tentang kematian pertama yang dialami seorang seniman. Bukan kematian raga, melainkan kematian diri lama sebelum akhirnya benar-benar menghilang. Tokoh dalam karya ini digambarkan sebagai seorang gadis yang sebelumnya larut dalam pekerjaannya. Ia menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya demi satu hasrat: menjadi seniman yang meninggalkan jejak bagi dunia.

Bayangan hitam yang berada di tengah karya merepresentasikan jiwa sang gadis. Sosok ini sedang menatap kembali perjalanannya, seberapa jauh ia telah melangkah, seberapa besar usaha yang telah ia berikan, dan seberapa berarti dampak yang ia tinggalkan. Bayangan itu tidak berteriak, tidak menuntut, hanya merenung dalam diam.

Menariknya, sebelum benar-benar menghilang, sang jiwa ingin menatap raganya sendiri. Ada segenggam harapan terakhir yang ia bawa: keinginan agar seluruh usahanya sebagai seniman tidak lenyap begitu saja. Ia ingin dikenang, ingin merasa bahwa perjalanannya memiliki arti dan menegaskan bahwa ia tidak ‘mati’ sendirian.

Melalui visual yang tenang dan simbol yang kuat, karya ini mengajak penonton untuk berpikir ulang tentang makna perjuangan, ingatan, dan keberadaan. Glancing at the First Death menjadi pengingat sederhana bahwa bagi seorang seniman, meninggalkan jejak adalah bentuk kehidupan yang lain.

(Sumber gambar: katalog karya artbility #6)

 

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait