The Starchaser’s Wish: Ketika Ingatan Menjadi Alasan untuk Bertahan
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat
Semarang
Pameran seni rupa Artbility edisi ke-6 yang diselenggarakan oleh UKM SRD UNNES kembali menghadirkan karya-karya penuh cerita dan emosi. Bertempat di Gedung B9 FBS UNNES, pameran ini menjadi ruang bagi seniman muda untuk mengekspresikan keresahan batin melalui bahasa visual. Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah The Starchaser’s Wish karya Ganesha Axl Fersalley, peraih Juara ke-4 kategori Digital Art.
Karya digital berukuran A2 ini menghadirkan sosok Ursa dalam ruang hampa yang tak tersentuh waktu. Ruang tersebut menjadi simbol jeda, sebuah fase singkat sebelum Ursa benar-benar menghilang dan terlahir kembali. Tubuh Ursa yang tersusun dari kenangan digambarkan mulai retak, seolah menegaskan bahwa ingatan manusia tidak pernah benar-benar utuh dan abadi.
Kepingan-kepingan kaca yang melayang di sekeliling Ursa memproyeksikan kenangan masa lalu bersama Akira, sahabat karib yang kini telah menghilang. Ingatan manis itu tampil rapuh, namun justru menjadi sumber emosi terdalam. Rasa kehilangan, rindu, dan kesedihan hadir bersamaan, memperlihatkan betapa kuatnya hubungan yang pernah terjalin. Meski Akira mungkin sudah tidak mengingatnya lagi, memori tersebut masih hidup di benak Ursa.
Simbol paling kuat dalam karya ini adalah bintang yang mulai retak. Bintang tersebut menjadi lambang harapan dan makna hidup Ursa. Ia ingin diingat, ingin dianggap ada. Bagi Ursa, dilupakan adalah kematian yang sesungguhnya. Tatapan matanya yang penuh harap menyuarakan keinginan sederhana namun mendalam: tetap bermakna bagi dunia.
Melalui The Starchaser’s Wish, Ganesha Axl Fersalley menyampaikan pesan bahwa kenangan, meski rapuh, adalah alasan manusia bertahan. Karya ini memperkaya narasi pameran Artbility #6 di Universitas Negeri Semarang, sekaligus mengajak pengunjung untuk merenungkan arti ingatan, kehilangan, dan harapan dalam kehidupan manusia.
(Sumber gambar: @ukmsrd_unnes)
Edited by
Desyfa Cahya Aina
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
