Dari Coretan Dosa hingga Siraman Air: Makna Filosofis Gebyuran Bustaman

Monday, 16 February 2026 14:43:55

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Di balik keceriaan dan riuhnya perang air, Gebyuran Bustaman menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan spiritualitas. Tradisi yang digelar setiap menjelang Ramadhan ini menjadi ruang refleksi bagi warga Kampung Bustaman, sekaligus pengingat pentingnya membersihkan diri sebelum berpuasa.

Rangkaian ritual dimulai dengan mencoret wajah menggunakan berbagai warna. Coretan tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan simbol dosa, kesalahan, dan kekhilafan manusia selama menjalani kehidupan. Warna-warna yang menempel di wajah menggambarkan bahwa setiap orang memiliki beban dan kesalahan masing-masing.

Setelah itu, air digebyurkan ke tubuh warga. Air dipercaya sebagai lambang pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin. Filosofi ini mengajarkan bahwa sebelum memasuki bulan suci, manusia perlu menata ulang hati dan niatnya. Tradisi ini diwariskan sejak tahun 1742 oleh Kyai Bustam, dan terus dijaga lintas generasi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang menilai Gebyuran Bustaman sebagai budaya lokal yang penting untuk dilestarikan. Selain memiliki nilai sejarah, tradisi ini juga memperkuat rasa kebersamaan warga di tengah kehidupan kota yang semakin modern.

Gebyuran Bustaman menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kaku dan formal. Melalui air, warna, dan tawa, masyarakat Bustaman menyampaikan pesan sederhana: setiap manusia punya masa lalu, tetapi selalu ada kesempatan untuk membersihkan diri dan memulai kembali, terutama saat Ramadhan tiba.

(Sumber gambar: jateng.antaranews.com)

Edited by

Desyfa Cahya Aina

Artikel atau postingan terkait