Dari Coretan Dosa hingga Siraman Air: Makna Filosofis Gebyuran Bustaman
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat
Semarang
Di balik keceriaan dan riuhnya perang air, Gebyuran Bustaman menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan dan spiritualitas. Tradisi yang digelar setiap menjelang Ramadhan ini menjadi ruang refleksi bagi warga Kampung Bustaman, sekaligus pengingat pentingnya membersihkan diri sebelum berpuasa.
Rangkaian ritual dimulai dengan mencoret wajah menggunakan berbagai warna. Coretan tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan simbol dosa, kesalahan, dan kekhilafan manusia selama menjalani kehidupan. Warna-warna yang menempel di wajah menggambarkan bahwa setiap orang memiliki beban dan kesalahan masing-masing.
Setelah itu, air digebyurkan ke tubuh warga. Air dipercaya sebagai lambang pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin. Filosofi ini mengajarkan bahwa sebelum memasuki bulan suci, manusia perlu menata ulang hati dan niatnya. Tradisi ini diwariskan sejak tahun 1742 oleh Kyai Bustam, dan terus dijaga lintas generasi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang menilai Gebyuran Bustaman sebagai budaya lokal yang penting untuk dilestarikan. Selain memiliki nilai sejarah, tradisi ini juga memperkuat rasa kebersamaan warga di tengah kehidupan kota yang semakin modern.
Gebyuran Bustaman menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kaku dan formal. Melalui air, warna, dan tawa, masyarakat Bustaman menyampaikan pesan sederhana: setiap manusia punya masa lalu, tetapi selalu ada kesempatan untuk membersihkan diri dan memulai kembali, terutama saat Ramadhan tiba.
(Sumber gambar: jateng.antaranews.com)
Edited by
Desyfa Cahya Aina
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
