Ketika Seni, Desain, dan AI Duduk Satu Meja di Galeri Bulaksumur

Tuesday, 03 February 2026 08:44:41

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Yogyakarta

Di tengah perubahan cepat dunia kreatif, Galeri Bulaksumur GIK UGM memilih untuk tidak berteriak, melainkan mengajak berbincang. Program Rasan-rasan yang digelar Februari 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana ruang seni dapat berfungsi sebagai mediator antara praktik kreatif dan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan.

Berbeda dari diskursus teknologi yang sering terdengar teknis dan kaku, Rasan-rasan justru mengusung pendekatan dialogis. Isu perubahan pola kerja industri desain akibat AI dibahas dari berbagai sudut pandang, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Desainer, pendidik, dan praktisi diajak duduk sejajar, berbagi kegelisahan sekaligus kemungkinan.

Workshop yang menyertainya pun tidak semata berfokus pada alat, melainkan pada cara berpikir. Optimalisasi AI dalam bidang arsitektur dan interior diposisikan sebagai upaya memperluas proses kreatif, bukan menggantikannya. Dengan pendekatan ini, teknologi hadir sebagai rekan diskusi, bukan ancaman.

Menariknya, Rasan-rasan tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari rangkaian yang juga mencakup pameran Datang, di mana karya seni rupa hadir sebagai konteks visual dari percakapan yang berlangsung. Kolaborasi GIK UGM dan Sedekat Imaji memperlihatkan bagaimana ekosistem seni dapat tumbuh melalui sinergi antara akademisi, seniman, dan komunitas.

Di Galeri Bulaksumur, seni tidak hanya dipamerkan, ia dipertanyakan, dibicarakan, dan dinegosiasikan. Sebuah pendekatan yang relevan di era ketika kreativitas dan teknologi semakin sulit dipisahkan.

(Sumber gambar: rri.co.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait