Seni yang Mengajak Duduk Lebih Lama: Pengalaman Pengunjung di The Right to Slow Down

Monday, 02 February 2026 16:10:43

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Surabaya

Tidak semua orang datang ke pameran seni dengan rencana. Ada pula yang singgah secara tidak sengaja dan justru menemukan pengalaman yang membekas. Hal inilah yang banyak terjadi di pameran The Right to Slow Down di Galeri Tujujati, Kafe Kammari, Kentintang.

Banyak pengunjung mengaku karya-karya dalam pameran ini terasa dekat dengan keseharian mereka. Bukan karena bentuknya rumit, melainkan karena medium dan temanya akrab: kegelisahan, kebiasaan bekerja tanpa henti, hingga kelelahan yang sering dianggap wajar. Tanpa disadari, pengunjung duduk lebih lama, menatap karya tanpa tergesa, bahkan larut dalam keheningan.

Ferdyan Haris Anedy, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, menjadi salah satu contoh pengunjung yang awalnya hanya “iseng”. Mendapat informasi dari karyawan kafe, ia memutuskan singgah dan justru terpikat oleh karya The Gospel of Disorder. Lukisan tengkorak Monalisa di atas kain itu membuatnya berhenti lebih lama, mengamati, dan merenung.

Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa seni tidak selalu harus dipahami secara teoritis. Dalam pameran ini, seni berfungsi sebagai pemantik rasa: rasa tenang, rasa lelah yang diakui, dan rasa lega karena diperbolehkan berhenti.

Athia Alamanda menyebut bahwa banyak pengunjung baru menyadari mereka telah duduk lama tanpa tujuan tertentu. Justru di situlah pesan pameran bekerja. The Right to Slow Down bukan hanya menawarkan karya visual, tetapi juga pengalaman: mengizinkan diri sendiri untuk tidak produktif, tanpa rasa bersalah.

(Sumber gambar: harian.disway.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait