Hak untuk Melambat: Ketika Pameran Seni Menjadi Ruang Bernapas

Monday, 02 February 2026 16:08:16

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Surabaya

Di tengah kehidupan yang menuntut serba cepat, pameran seni The Right to Slow Down di Galeri Tujujati, Kafe Kammari, Surabaya, hadir sebagai pengingat sederhana: manusia juga berhak berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk bernapas.

Pameran yang berlangsung hingga 25 Februari 2026 ini lahir dari keresahan akan kelelahan kolektif masyarakat modern. Menurut Athia Alamanda, pengantar teks kuratorial pameran, kelelahan itu bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Dorongan untuk terus produktif membuat banyak orang lupa memberi ruang jeda bagi dirinya sendiri.

Pemilihan Kafe Kammari sebagai lokasi pameran pun bukan tanpa alasan. Ruang yang cair, santai, dan dekat dengan aktivitas sehari-hari membuat pesan ‘melambat’ terasa lebih membumi. Pengunjung tidak dihadapkan pada suasana galeri yang kaku, melainkan ruang yang mengizinkan mereka duduk, menunggu, dan sekadar mengamati tanpa target.

Karya-karya yang ditampilkan mengajak publik merenungkan ulang relasi mereka dengan waktu. Dari ilustrasi kain The Gospel of Disorder karya Arsya Deananda yang merepresentasikan kegelisahan batin, hingga fotografi How Time Walks, How Time Flies karya Shohifur Ridho’i yang menyoroti pengalaman perjalanan dalam lapisan waktu berbeda.

Melalui medium yang dekat dengan keseharian seperti kertas limbah, tirai, dan benda rumah tangga, para seniman menegaskan bahwa melambat tidak harus spektakuler. Diam, duduk, dan berhenti sejenak justru bisa menjadi bentuk keberanian di dunia yang menuntut kita terus berlari.

(Sumber gambar: harian.disway.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait