Ketika Seniman Bersikap: Peran Seni dalam Merespons Krisis Bangsa

Sunday, 01 February 2026 15:09:55

Written by Sefiyan eza Nur Hidayat

  Surabaya

Pameran Mangsa Kalasubo bukan sekadar ajang pamer karya, melainkan pernyataan sikap. Melalui kanvas dan medium visual, para perupa yang terlibat menyuarakan kepedulian terhadap kondisi bangsa. Di sinilah seni rupa menunjukkan perannya sebagai medium kritik, refleksi, dan perubahan sosial.

Nabila Dewi Gayatri, selaku inisiator pameran, menegaskan bahwa seniman adalah agen perubahan. Pernyataan ini menempatkan seniman tidak sekadar sebagai pencipta keindahan, tetapi sebagai subjek yang memiliki tanggung jawab moral. Dalam situasi krisis yang berkelanjutan, diam bukanlah pilihan.

Keterlibatan tokoh-tokoh seperti Gus Mus, Nasirun, dan Acep Zamzam Noor memperkuat pesan tersebut. Mereka dikenal bukan hanya karena kualitas artistik, tetapi juga keberanian bersikap. Karya-karya mereka kerap menyentuh isu kemanusiaan, spiritualitas, dan kebangsaan, isu yang relevan dan mendesak.

Melalui Mangsa Kalasubo, seni diposisikan sebagai bahasa alternatif untuk menyampaikan kebenaran. Ia tidak berteriak, tetapi mengajak berpikir. Tidak memaksa, tetapi menggugah. Dalam konteks NU, pendekatan ini sejalan dengan dakwah kultural yang mengedepankan kebijaksanaan dan kesadaran.

Pameran ini menjadi pengingat bahwa seni memiliki daya vibrasi. Ia mungkin tidak mengubah dunia secara instan, tetapi mampu menggerakkan kesadaran. Dan dari kesadaran itulah, perubahan perlahan bisa dimulai.

(Sumber gambar: jatim.antaranews.com)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait