Warna, Lirik, dan Matahari: Tafsir Harapan Nasirun di Awal Tahun

Friday, 30 January 2026 06:42:49

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Solo

Kolaborasi Bentara Budaya Yogyakarta dengan perupa Nasirun menghadirkan nuansa kontemplatif yang kuat dalam pameran Menyongsong Matahari 2026. Tiga lukisan berukuran besar, masing-masing 2 x 2 meter, dipajang berjajar di sisi timur ruang pamer BBY, membentuk medan visual yang tegas sekaligus reflektif.

Merah, kuning, dan biru menjadi warna dominan yang tidak hadir sebagai elemen dekoratif semata. Nasirun memberi makna filosofis pada setiap warna: merah sebagai simbol “waras”, kuning sebagai “wiris”, dan biru sebagai “wareg”. Ketiganya merepresentasikan nilai hidup yang saling berkaitan, kesehatan lahir batin, kesadaran spiritual, dan kecukupan hidup sebagai penopang kejernihan pikiran.

Menariknya, lapisan visual lukisan ini berpadu dengan teks berupa lirik lagu Kunto Aji. Inspirasi tersebut muncul setelah Nasirun menyaksikan konser Urup pada 1 Januari 2026. Lirik lagu yang dikenal sarat refleksi personal itu bertransformasi menjadi elemen visual, mempertemukan musik, pengalaman emosional, dan seni rupa dalam satu bidang kanvas.

Objek matahari yang hadir dalam karya-karya tersebut menjadi simbol yang konsisten: harapan, awal baru, dan daya hidup. Matahari tidak digambarkan secara naratif, melainkan sebagai penanda energi yang terus bergerak, sejalan dengan semangat awal tahun.

Melalui karya-karya ini, Nasirun tidak menawarkan jawaban, melainkan ruang tafsir. Menyongsong Matahari 2026 menjadi pengingat bahwa seni dapat berfungsi sebagai medium perenungan, tentang hidup yang waras, iman yang terjaga, dan keseimbangan yang layak diperjuangkan.

(Sumber gambar: kompas.com)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait