Seni Rupa Banyumas Bangkit: Walking in Grace sebagai Penanda Optimisme Seniman Lokal

Thursday, 29 January 2026 08:22:01

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Banyumas

Pameran Walking in Grace karya Chune Ebeg Mayong menjadi lebih dari sekadar peristiwa seni rupa. Ia hadir sebagai sinyal optimisme bagi ekosistem seni Banyumas yang selama ini berjalan dalam keterbatasan ruang dan perhatian. Digelar di Heterospace, pameran ini menunjukkan bahwa seni lokal memiliki daya hidup, daya jual, dan daya tarik publik yang kuat.

Dengan menghadirkan 23 lukisan dan puluhan karya celengan, Chune tidak hanya memamerkan produktivitas, tetapi juga konsistensi berkarya. Dalam waktu kurang dari dua bulan, ia merampungkan seluruh karya dengan pendekatan ekspresif yang matang. Tema kegembiraan dan rasa syukur yang diangkat terasa relevan dengan kondisi sosial pascapandemi ketika masyarakat rindu ruang perayaan yang sederhana namun tulus.

Antusiasme pengunjung yang mencapai ratusan orang dalam dua hari menjadi bukti bahwa seni rupa Banyumas memiliki audiensnya sendiri. Lebih dari itu, keberhasilan penjualan lima lukisan di hari pertama pameran menjadi capaian yang jarang terjadi dalam pameran seni lokal. Hal ini menandakan tumbuhnya kepercayaan publik terhadap nilai karya seniman daerah.

Rangkaian acara pendukung seperti pertunjukan tari, wayang kerupuk, hingga kehadiran komunitas Tosan Aji Keris Banyumas memperlihatkan potensi kolaborasi lintas seni dan komunitas. Pameran tidak lagi berdiri eksklusif, tetapi menjadi ruang sosial yang inklusif.

Melalui forum juguran seni di hari penutupan, Chune membuka dialog tentang masa depan seni rupa Banyumas. Harapannya jelas: seniman lokal berani tampil, saling menguatkan, dan mendapat dukungan konkret dari pemerintah daerah. Jika dikelola dengan serius, seni rupa bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga dapat berkembang menjadi bagian penting dari destinasi wisata Banyumas.

(Sumber gambar: rri.co.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait