Bale Kajenar: Ruang Seni yang Menjaga Akar Budaya di Tengah Arus Digital

Tuesday, 27 January 2026 12:15:52

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Yogyakarta

Di tengah derasnya arus digitalisasi, pelestarian seni budaya tidak lagi cukup dilakukan lewat wacana. Dibutuhkan ruang nyata yang mampu menjembatani tradisi dengan generasi masa kini. Bale Kajenar di kawasan Imogiri, Bantul hadir sebagai salah satu contoh ruang seni yang mengambil peran strategis tersebut.

Berlokasi di Sendang Wangi, Plencing, Wukirsari, Bale Kajenar diproyeksikan sebagai sentra pengembangan seni budaya berbasis masyarakat. Kehadirannya bukan hanya untuk menampilkan seni sebagai tontonan, tetapi sebagai proses hidup yang terus diwariskan. Di tempat inilah nilai-nilai budaya dirawat, dipraktikkan, dan dikenalkan kembali secara kontekstual.

Pendamping Desa Budaya dari Dinas Kebudayaan DIY, Astuti Handayani menegaskan bahwa Bale Kajenar merupakan wujud apresiasi terhadap tokoh seni budaya yang memiliki visi menjaga warisan leluhur. Dengan dukungan tokoh budaya, seperti Kanjeng Pangeran Nurdiantoro Buyut dr Paku Buwono 10, Bale Kajenar diarahkan menjadi ruang pembelajaran lintas generasi.

Yang menarik, Bale Kajenar juga memosisikan diri sebagai penyeimbang dampak negatif teknologi. Di saat generasi muda semakin dekat dengan gawai, seni budaya di Bale Kajenar diperkenalkan sebagai pengalaman langsung yang melibatkan tubuh, rasa, dan kebersamaan.

Lebih dari sekadar ruang fisik, Bale Kajenar adalah simbol kesadaran bahwa seni budaya tidak boleh berhenti sebagai artefak masa lalu. Ia harus hadir, bernapas, dan relevan di masa kini. Dari Imogiri, Bale Kajenar membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari ruang kecil dengan visi besar.

(Sumber gambar: beritatopline.com)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait