Move Art dan Sikap Seni di Tengah Arus Digitalisasi

Tuesday, 27 January 2026 08:45:49

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Surabaya

Di era ketika segalanya serba cepat, instan, dan terukur oleh algoritma, pameran Move Art hadir membawa sikap. Diselenggarakan di Galeri Prabangkara sebagai pembuka Pekan Seni Rupa Jawa Timur 2026, pameran ini menegaskan bahwa seni rupa tidak harus tunduk pada logika digital dan pasar.

Agus “Koecink” Sukamto menyebut gerakan pameran ini sebagai aliran sungai yang konsisten. Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Move Art sebagai praktik seni yang setia pada proses. Seni dihadirkan bukan untuk mengejar viralitas, melainkan untuk membangun pengalaman dan makna yang tumbuh perlahan.

Di tengah dominasi konten visual digital, pameran ini justru menegaskan nilai kehadiran fisik karya seni. Lukisan tidak direduksi menjadi sekadar gambar di layar, melainkan dihadirkan sebagai objek yang mengandung emosi, gagasan, dan perjalanan kreatif senimannya.

Lebih jauh, Move Art menunjukkan bahwa seni memiliki peran strategis dalam kehidupan kota. Seni bukan pelengkap, tetapi elemen penting yang menjaga kota tetap hidup dan manusiawi. Tanpa seni, kota hanya bergerak secara mekanis, efisien, tetapi kehilangan jiwa.

Pameran ini diharapkan mampu memotivasi seniman untuk terus bereksplorasi tanpa terjebak tren sesaat. Move Art menjadi penanda bahwa di tengah gempuran teknologi, seni masih mampu berdiri tegak dengan caranya sendiri.

(Sumber gambar: radarsurabaya.jawapos.com)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait