Nyawiji Kanggo Ibu Bumi: Festival Kendeng sebagai Ruang Kembalinya Seni ke Rakyat

Tuesday, 13 January 2026 07:30:22

Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat

  Semarang

Kehadiran Taring Padi dalam Festival Kendeng 2025 menandai satu hal penting: seni menemukan kembali fungsinya di tengah masyarakat. Melalui pameran lukisan dan panji-panji perlawanan, Taring Padi tidak hanya memamerkan karya, tetapi mengembalikan seni ke akar sosialnya—sebagai alat komunikasi, solidaritas, dan keberpihakan.

Lukisan Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi menjadi pusat perhatian bukan semata karena ukurannya, tetapi karena daya ceritanya. Karya ini merepresentasikan semangat kolektif warga Kendeng dalam menjaga alam, sekaligus kritik terhadap praktik penambangan yang mengancam ruang hidup. Kontras visual yang kuat memudahkan pesan diterima oleh siapa pun, tanpa harus melalui bahasa akademik.

Selain lukisan, sepuluh panji berisi tembang-tembang Samin turut dipamerkan. Panji-panji ini menegaskan bahwa perlawanan tidak selalu berbentuk demonstrasi, tetapi juga bisa hadir melalui nyanyian, simbol, dan ingatan budaya. Seni menjadi jembatan antara tradisi dan perjuangan kontemporer.

Pernyataan para seniman Taring Padi bahwa karya ini “kembali ke tanahnya” menunjukkan sikap etis dalam berkesenian. Seni tidak dimonopoli oleh seniman atau institusi, melainkan dipersembahkan kepada warga yang menghidupinya.

Festival Kendeng 2025 pun tampil sebagai ruang alternatif, tempat seni, budaya, dan perjuangan lingkungan bertemu. Di sinilah seni tidak hanya dipamerkan, tetapi dijalankan—sebagai bagian dari gerak hidup masyarakat.

(Sumber gambar: mondes.co.id)

Edited by

Setiya Adi Buono

Artikel atau postingan terkait