Kilas Balik Netflix: Dari Penyewaan DVD ke Raksasa Streaming Dunia
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat
Semarang
Ramainya perbincangan tentang Netflix belakangan ini bikin banyak orang kembali menengok ke belakang, ke masa ketika Netflix bukanlah platform streaming global, melainkan bisnis penyewaan DVD rumahan. Perusahaan ini lahir pada 29 Agustus 1997 di Scotts Valley, California, hasil gagasan Reed Hastings dan Marc Randolph yang melihat peluang dari teknologi DVD yang saat itu masih sangat baru.
Saat pertama diluncurkan, Netflix hanya punya kurang dari 1.000 judul dan sekitar 30 karyawan. Namun, inovasi besar langsung terasa: semua dilakukan secara daring. Tidak ada toko fisik, tidak ada batas rak, dan pelanggan bisa menjelajah katalog seluas mungkin tanpa harus datang ke tempat penyewaan. Di era ketika Blockbuster masih merajai pasar, langkah Netflix terasa, seperti gebrakan kecil yang diam-diam revolusioner.
Puncak inovasi berikutnya muncul pada 1999 ketika Netflix memperkenalkan model berlangganan bulanan tanpa batas waktu pengembalian, tanpa denda, dan tanpa biaya kirim. Sistem ini mengubah kebiasaan konsumen dan secara perlahan membuat model ‘bayar per sewa’ ditinggalkan sepenuhnya pada 2000. Meski butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai profit, baru tercapai pada 2002. Netflix jelas mengambil jalur yang berbeda dari kompetitornya.
Hastings beberapa kali menyebut perjalanan awal ini sebagai evolusi dari “bisnis DVD yang bertarung sengit dengan Blockbuster” menuju transformasi besar ke layanan streaming. Kini, ketika Netflix jadi pusat pembicaraan karena ekspansi dan kontroversi barunya, kisah kilas balik ini mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering bermula dari ide sederhana yang konsisten dieksekusi.
(Sumber gambar: brand.netflix.com)
Edited by
Setiya Adi Buono
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
