Pernah Viral, Film Jumbo Ajukan IP Merek Dagang
Location
Film “Jumbo” yang merupakan film animasi besutan Ryan Adriandhy dan hasil produksi dari Visinema Pictures, bukan hanya sekadar tontonan untuk hiburan, tetapi juga contoh nyata bagaimana hak kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) berperan penting dalam industri kreatif. Di balik sebuah karya film, terdapat banyak elemen yang dilindungi secara hukum, mulai dari ide cerita, karakter, desain visual, musik, hingga nama dan logo film itu sendiri sebagai merek dagang.
IP pada merek film seperti Jumbo berfungsi melindungi identitas dan reputasi karya tersebut dari penyalahgunaan pihak lain. Misalnya, jika seseorang menggunakan nama “Jumbo” tanpa izin untuk tujuan komersial, hal itu dapat merugikan pihak pembuat film secara ekonomi maupun moral. Dengan perlindungan merek, produser atau studio memiliki hak eksklusif untuk mengatur distribusi, promosi, serta lisensi filmnya.
Meninjau laman mebiso.com, merek dagang ”Jumbo” tengah dalam proses pemeriksaan substantif pada tanggal 17 September 2024 dengan permohonan nomor kelas merek 25 dan 43. Nomor kelas merek 25 adalah klasifikasi untuk pakaian, alas kaki, penutup kepala, dan sebagainya. Kategori ini mencakup produk siap pakai, seperti baju, celana, jaket, sepatu, sandal, topi, dan aksesori lainnya, tetapi tidak termasuk bahan mentah atau setengah jadi, sedangkan nomor kelas 43 merujuk pada kelas jasa yang mencakup layanan penyediaan makanan dan minuman, serta akomodasi sementara. Ini mencakup bisnis seperti restoran, kafe, hotel, penginapan, dan katering.
Pemahaman tentang IP menjadi penting bagi masyarakat agar lebih menghargai proses kreatif di balik setiap karya. Perlindungan ini bukan hanya soal hukum, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap ide dan kerja keras para kreator. Film Jumbo menjadi pengingat bahwa setiap karya, sekecil apa pun, punya nilai intelektual yang layak dijaga.
(Sumber gambar: raciniga.com)
Written by
Artikel atau postingan terkait
Merajut Kreativitas di Sela Pameran: Belajar Teknik Jahit Dasar Bersama Puspa Danti
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran tunggal Arief Hadinata bertajuk "Break The Loops" di Amoora Caffe, Semarang, tidak hanya memanjakan mata melalui deretan karya visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk aktif berkarya. Salah satu agenda yang...
Go Global: Digitalisasi Perbankan sebagai Katalisator Industri Kreatif
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Transformasi digital telah mengubah wajah industri kreatif, di mana batas fisik tidak lagi menjadi penghalang bagi seniman untuk menjangkau pasar internasional. Dalam sosialisasi perbankan di Amoora Caffe Semarang,...
Memutus Rantai Ketidakpastian Finansial bagi Pekerja Seni
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Dalam dunia kreatif, seniman sering kali dihadapkan pada tantangan pendapatan yang tidak tetap atau bersifat fluktuatif. Menjawab kegelisahan tersebut, Tia Rahayu Wulandari dari Bank BRI hadir di sela pameran "Break The...
