Antara Jadi Diri Sendiri dan Ikut Tren: Dilema Anak Muda di Era Authentic Self

Monday, 01 December 2025 14:31:12

  Location

Di tengah dunia digital yang serba cepat, anak muda hidup dalam paradoks ”semua orang ingin terlihat authentic”, tapi di saat yang sama takut tertinggal dari tren. Istilah “be yourself” kini sering bergandengan dengan budaya viral, menciptakan tekanan baru tentang bagaimana tetap jadi diri sendiri ketika dunia terus menilai dari tampilan luar dan algoritma media sosial.

Budaya “authentic self” awalnya lahir dari keinginan untuk tampil apa adanya, jujur pada diri sendiri, dan menolak standar kecantikan atau kesuksesan yang dipaksakan. Namun, di tangan media sosial, konsep ini sering terjebak jadi performa baru, yakni keaslian yang dikurasi. Banyak kreator yang akhirnya berusaha terlihat “tulus”, tapi tetap disesuaikan agar menarik perhatian dan engagement.

Tekanan tren semakin kuat ketika gaya hidup, fashion, hingga opini jadi komoditas yang harus up to date. Dari outfit of the day, gaya minimalis, hingga healing trip, semua bisa berubah jadi tren massal yang ironisnya memaksa semua orang terlihat berbeda dengan cara yang sama.

Di tengah kebingungan itu, keseimbangan jadi kunci. Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak tren, tapi menyaring mana yang benar-benar mewakili nilai dan kepribadian kita. Tren akan datang dan pergi, tapi keaslian yang jujur meskipun sederhana, akan selalu punya tempat di dunia yang haus pencitraan.

 

 

(Sumber gambar: pelitaonline.co) 

Written by

Sefiyan Eza Nur Hidayat

Artikel atau postingan terkait