Kisah Ecoprint Yu Paijem sebagai Simbol Cinta Alam dan Budaya Purbalingga
Location
Nama Yu Paijem Purbalingga atau yang sebenarnya bernama Nur Hadiati, belakangan ini mencuri perhatian publik setelah produk ecoprint buatannya diborong oleh Ketua DPR RI, Puan Maharani, dalam kunjungan ke Purbalingga. Peristiwa itu bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan kreativitas lokal dari kaki Gunung Slamet, tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Di balik popularitas yang tiba-tiba itu, ada kisah ketekunan dan cinta terhadap budaya serta alam yang menginspirasi banyak orang.
Ecoprint, teknik pewarnaan kain menggunakan bahan alami dari daun, bunga, dan batang tanaman, menjadi media ekspresi Nur Hadiati dalam melestarikan alam sekaligus budaya. Di tangannya, dedaunan yang jatuh di sekitar Desa Serang berubah menjadi motif-motif indah yang memiliki karakter khas: lembut, alami, dan penuh filosofi. Setiap pola yang tercetak di kain ecoprint bukan hasil mesin, melainkan hasil interaksi antara manusia dan alam. Di sinilah unsur kebudayaan lokal hadir bahwa manusia Purbalingga senantiasa hidup berdampingan dengan alam, menghargai proses, serta menjadikan alam sebagai sumber inspirasi kehidupan.
Lebih dari sekadar produk fasion, karya Yu Paijem mencerminkan identitas Purbalingga yang sarat akan nilai-nilai tradisi dan ekologi. Desa Serang sendiri dikenal sebagai kawasan sejuk dengan kekayaan flora yang melimpah, sehingga menjadi ladang alami bagi praktik ecoprint. Dengan memanfaatkan sumber daya sekitar, Yu Paijem tidak hanya menciptakan karya seni bernilai tinggi, tetapi juga memperkenalkan konsep keberlanjutan (sustainability) yang sejalan dengan filosofi Jawa tentang keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Ketenaran Yu Paijem juga membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. Ia memberdayakan warga desa, terutama kaum perempuan, untuk ikut memproduksi kain ecoprint dan mengembangkan keterampilan kriya. Semangat kolaboratif ini memperkuat posisi Purbalingga sebagai daerah yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga kaya secara budaya.
(Sumber gambar: ecoprintyupaijem.wordpress.com)
Written by
Artikel atau postingan terkait
Mengukir Kenangan di Akhir Perjalanan: Seremonial Penutupan Pameran “Unspoken”
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Setelah sukses menarik perhatian publik selama masa penyelenggaraannya, pameran seni "Unspoken" akhirnya sampai pada puncak acaranya. Seremonial penutupan yang digelar pada malam terakhir pameran berlangsung sangat meriah...
Kemeriahan Penutupan Pameran “Unspoken” Bersama Brokenoken
Written by Sefiyan Eza Nur Hidayat Semarang Pameran seni bertajuk "Unspoken" resmi berakhir dengan sebuah kejutan yang tidak biasa. Jika biasanya penutupan pameran seni identik dengan suasana formal dan tenang, malam penutupan kali ini justru terasa lebih hidup dan...
Kegiatan Melukis Bersama Klub Merby Meriahkan Pameran “Unspoken”, Dorong Kreativitas Anak
Written by Ning Imas Ati Z Semarang, Jawa Tengah Semarang, 29 Maret 2026 — Kegiatan melukis bersama Klub Merby yang terdiri dari anak-anak bertalenta turut meramaikan rangkaian acara solo exhibition “Unspoken” karya Airlangga Satryatama Wisnumurti di Tan Art Space,...


